LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I: KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I:
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I
DISUSUN OLEH :
ADITH ANDRIZAL
(A1C119065)
NAMA DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2021
Percobaan Ke – 11
VII . Data Pengamatan
|
No. |
Prosedur kerja |
Fungsi alat dan bahan |
Tujuan prosedur kerja |
Hasil pengamatan |
|
1. |
Disiapkan plat KLT dengan ukuran 1x8 cm, ujung bawah dan ujung atas diberi garis batas dengan panjang 0,5 cm
|
Bahan : · Fraksi n-heksan sebagai bahan yang akan diujikan · Fraksi etil asetat sebagai bahan yang akan diujikan · Fraksi air sebagai bahan yang akan diujikan · Plat KLT GF254 sebagai tempat untuk mentotolkan bahan yang akan diuji jarak bercaknya · Pipa kapiler sebagai alat yang digunakan untuk mentotolkan bahan ke plat KLT · Etanol 95% sebagai fase gerak yang akan dijenuhkan dengan etil asetat · N-heksan sebagai fase gerak yang akan dijenuhkan dengan etil asetat · Etil asetatsebagai fase gerak yang akan dijenuhkan baik dengan etanol 95% ataupun n-heksan Alat : · Bejana KLT adalah tempat untuk meletakkan fase gerak yang kemudian akan dimasukkan plat klt · Pinsetsebagai alat bantu untuk memegang plat KLT · Lampu UV 254 berfungsi melihat pengamatan pada plat klt untuk melihat fluoresensi yang timbul pada bercak yang tidak tampak pada cahaya tampak
|
Tujuannya agar mempermudah untuk menotolkan sampel pada plat KLT |
Diperoleh plat KLT yang telah dibari garis batas |
|
2. |
Diberi tanda nama fraksi yang akan digunakan dibelakang plat KLT
|
Untuk mempermudah dalam membedakan bahan yang digunakan |
Didapati plat KLT yang telah dibaeri nama sesuai dengan bahan yang akan ditotolkan |
|
|
3. |
Disiapkan pipa kapiler berdiameter kecil, kemudian bilas menggunakan etanol 96%
|
Tujuannya untuk membersihkan pipa kapiler dari pengotor yang mungkin saja masih ada |
Didapati pipa kapiler yang telah bersih dan siap digunakan |
|
|
4. |
Dimasukkan pipa kapiler ke tempat sampel. Biarkan sampel tertarik didalam pipa
|
Untuk mengambil sampel dengan pipa kapiler untuk kemudian ditotolkan |
Didapati larutan sampel yang terdapat dalam pipa kapiler |
|
|
5. |
Ditotol sampel sebanyak 3 kali ditengan plat KLT bagian bawah, tepat digaris tanda
|
Agar noda dari sampel dapat bener benar menempel pada plat KLT |
Diperoleh plat KLT yang telah terdapat sampel yang siap diujikan |
|
|
6. |
Dimasukkan plat KLT yang sudah diberi sampel menggunakan pinset dengan posisi horizontal dan pastikan plat KLT berdiri tegak |
Untuk mempermdah dalam pergerakan fase gerak di plat KLT |
Diperolaeh plat KLT berada dalam posisi tegak |
|
|
7. |
Dimasukkan seluruh plat KLT yang sudah diberi sampel (3 sampel) ke dalam masing masing bejana KLT yang berisi fase gerak yang telah dijenuhkan
|
Untuk melihat fase gerak dari plat KLT yang telah diberi sampel |
Diperolaeh plat KLT yang terdapat sampel berada didalam bejana KLT |
|
|
8. |
Didiamkan KLT hingga fase gerak bergerak maju menuju tanda batas atas, kemudian keluarkan plat KLT dan biarkan kering
|
Untuk melihat fase gerak dari plat KLT |
diperoleh fase gerak dari plat KLT |
|
|
9. |
Setelah kering, plat KLT diamati dengan melihat bercak noda yang terpisah atau terbawa oleh fase gerak baik melalui sinar tampak ataupu pada lampu UV 254
|
Tujuannya untuk melihat bercak noda yang ditimbulkan oleh fase gerak baik melalui sinar tampak ataupun lampu UV 254 |
Pada KLT dengan fase gerak n-heksan: etil asetat (1:1) tidak terjadi pemisahan / bercak noda tidak ada dibawah sinar tampak, hasil klt juga diamati dibawah lampu UV 254 dimana pada fase gerakn-heksan: etil asetat (1:1) tidak terjadi pemisahan / bercak noda tidak ada dibawah sinar UV
Selanjutnya, KLT pada fase gerak etanol 96%: etil asetat (1:1) terjadi pemisahan / adanya bercak noda pada fraksi n-heksana yang diamati dibawah sinar tampak, hasil KLT yang diamati pada lampu UV 254 dimana terjadi pemisahan/adanya bercak noda pada fraksi n-heksan yang diamati dibawah sinar UV |
|
|
10. |
Kemudian dilingkari bercak noda menggunakan pensil kayu untuk memperjelas posisi bercak noda
|
Untuk memperjelas tanda bercak noda |
Diperoleh bercak noda yang telah diberi tanda yang diperjelas |
|
|
11. |
Setelah didapat jarak bercak noda, maka nilai RF dihitung |
Untuk menghitung nilai RF |
Diperoleh jarak noda dibagi jarak fase gerak = 5,6/7,1 = 0,78 |
VIII. PEMBAHASAN
Kromatografi Lapis Tipis atau KLT ini digunakan untuk mencari fase gerak yang terbaik untuk digunakan pada kromotografi kolom. Metode kromotografi lapis tipis ini dinilai mudah dan cepat untuk menguji kemurnian suatu senyawa organic.
Untuk mengidentifikasi suatu sentawa dengan menggunakan kromotografi lapis tipis ini dilakukan dengan menghitung dan membandingkan harga Rf semua zat yang terpisah dengan Rf zat autentik. Untuk ketelitian, ada kalanya campuran sengaja diberi zat autentik dan dikembangkan dengan sekaligus. Nilai Rf yang didapat, yaitu :
jarak noda dibagi jarak fase gerak = 5,6/7,1 =
0,78
Untuk memisahakan suatu senyawa dalam campuran menggunakan kromotografi lebih baik mengenal jelas baik dari segi kimia dan fisiknya senyawa tersebut yang akan di pisahakan. Setelah itu baru bisa memilih fasa apa yang digunakan agar pemisahan tersebut berjalan dengan baik.
IX. PERTANYAAN
1. Kenapa pada percobaan ini hanya menggunakan fase gerak saja?
2. Apakah ukuran plat mempengaruhi percobaan ini?
3. Faktor apa saja yang membuat percobaan gagal?
X. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat kita peroleh dari percobaan kali ini adalah sebagai berikut :
1. Dalam teknik kromotografi, campuran senyawa dapat dipisahkan menjadi komponen nya berdasarkan pendeistribusian. Zat antara dua fase, yaitu : fase diam dan fase gerak
2. Penerapan pembuatan KLT dapat diawali dengan menyalut play dengan suspense bahan penyerap, kemudian plat dikeringkan lalu diberi garis tanda dengan pensil, baru siap untuk digunakan pada KLT.
XI. DAFTAR PUSTAKA
Asih, N, 2010, Pemishan Pigmen Daun Bayam Dengan Kromotografi Kolom, Jurnal Teknologi, Vol. 1, No.1
Khopkar, 2008, Kimia Dasar Untuk Universitas, Jakarta: Erlangga
Tim Kimia Organic I, 2016, Penuntun Praktikum Kimia Organic I, Jmabi : Universitas Jambi
Wahyuni, 2013, Penggunaan Kitin Sebagai Alternatif Fase Diam Kromotografi Lapis Tipis, Jurnal Vidya Karya, Vol. 32, No. 1
Baiklah, saya Suci Rohana Putri Tambunan (A1C119050) akan menjawab soal no. 3
BalasHapusPenotolan FASA gerak atau sampel yang berlebihan, peletakkan plat TLC yang tegak lurus, sampel yang terkontaminasi dengan senyawa lain, plat TLC yang terkontaminasi senyawa lain, dan pergerakan berlebihan yang dapat mengganggu bejana sehingga plat TLC di dalamnya menjadi bergeser/tidak tegak lurus.
Baiklah saya Esra Oktapriani Gultom (A1C119059) akan menjawab pertanyaan no 2.
BalasHapuspada percobaan ini ukuran plat klt tersebut mempengaruhi hasil karena berdasarkan ukuran platnya akan dihirung rf nya
Baiklah saya Erina Shafura (A1C119068) akan menjawab pertanyaan no.1
BalasHapusPada percobaan ini menggunakan dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Dimana fasa gerak yang digunakan pada video literatur saudara adalah etanol 90% dan etil asetat sedangkan fasa diamnya adalah plat Klt.